Rabu, 12 Desember 2012

YADNYA




A.               Pengertian Yadnya

Kata yadnya berasal dari Bahasa Sansekerta, dari urat kata kerja “Yaj” yang berarti memuja atau mempersembahkan atau memberi pengorbanan. Jadi kata yadnya itu sendiri berarti korban, persembahan atau korban suci.
Adapun sumber-sumber sastra agama Hindu yang dapat dijadikan acuan dalam menyimak pengertian Yadnya tersebut antara lain dalam kitab Bhagawadgita Bab III sloka 10 menyebutkan :
“Sahayajnah prajah srishtva

puro ‘vacha prajapatih
anana prasavishya dhvam
asha vo ‘stv ‘shta kamadhuk”.
Artinya :
                        Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan beliau bersabda. Dengan ini engkau akan berkembang biak dan menjadi kamadhuk dari  keinginanmu.

Dalam Bhagawadgita Bab III sloka 14 juga disebutkan :
                        “Annad bhavanti bhutani
                        prajayad annasambhavah
                        yajnad bhavati parjanyo
yajnah karma samudbhavah”.
Artinya :
            Karena makanan,  makhluk hidup,
            Karena hujan,  makanan tumbuh,
            Karena persembahan,  hujan turun,
            Dan persembahan lahir karena kerja.

Dengan demikian jelaslah bahwa pengertin yadnya itu sendiri tidak saja sebatas pada upacara semata berupa persembahan sesajen saja, namun jauh lebih luas dari itu  yaitu segala bentuk pemujaan, persembahan atau korban suci baik berupa material maupun spiritual yang timbul dari jiwa suci dan semangat berkorbn demi untuk tujuan mulia dan luhur.

B.               Jenis-jenis Yadnya

Sesuai dengan maksud dan tujuan yadnya itu sendiri dapat dibagi menjadi lima macam yang sering disebut dengan Panca Yadnya. Panca yadnya itu sendiri berarti lima macam korban atau persembahan. Panca Yadnya ini timbul akibat dari hutang (Rna) manusia sejak lahir. Hutang tersebut terdiri dari 3 (tiga) macam, yaitu :
1.      Dewa Rna adalah hutang jiwa kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
2.      Pitra Rna adalah hutang jasa kepada leluhur dan orang tua.
3.      Rsi Rna adalah hutang pengetahuan kepada para Rsi.
Adapun bagian-bagian dari Panca Yadnya tersebut adalah :
1.      Dewa Yadnya
2.      Pitra Yadnya
3.      Rsi Yadnya
4.      Manusa Yadnya
5.      Bhuta Yadnya.

Penjelasan dari masing-masing bagian Panca Yadnya adalah :
1.      Dewa Yadnya adalah persembahan atau korban suci yang tulus ikhlas kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya. Pelaksanaan Dewa Yadnya ditimbulkan oleh adanya Dewa Rna yaitu Hutang jiwa kepada Tuhan dan para Dewa. Dewa Yadnya yang sering dilakukan setiap hari disebut Nitya Karma. 
Nitya Karma sendiri atau Yadnya ini dalam bentuk yadnya sesa yaitu : setelah selesai menanak nasi sebelum disantap dipersembahkan kepada : Bhatara-bhatara di merajan, Hyang Brahma di Pewaregan (dapur), Hyang Wisnu di sumur atau tempat air, Hyang Siwa Raditya di atap rumah, Hyang Pratiwi di halaman rumah, kepada Penunggu Karang di Tuggu (jero gede), di lesung, ditalenan, dicubek pengulekan bumbu, sapu dan lain sebagainya. Aplikasi dari Yadnya cara ini, umat hindu dilatih untuk mementingkan kepentingan orang lain atau umum terlebih dahulu dari kepentingan diri sendiri.
Selain Nitya Karma ada Juga Naimitika karma yaitu Dewa Yadnya yang dilakukan pada hari-hari tertentu, berdasarkan desa, kala, patra antara lain pelaksanaanya pada hari raya Hindu pada saat puja wali. Naimitika karma  yang lain misalnya, dijalankan karena adanya peristiwa yang dipandang perlu untuk dlaksanakan yadnya, misalnya kelahiran bayi, melaspas dan sebagainya.

2.      Pitra yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas ditunjukkan kepada para pitara dan roh-roh suci leluhur yang sudah meninggal. Pitra yadnya juga berarti pengormatan dan perawatan yang baik dan benar kepada orang tua serta memperlakukan orang tua dengan kasih sayang. Pelaksaan Pitra Yadnya ditimbulkan oleh adanya Pitra rna yaitu hutang jasa kepada para leluhur dan orang tua.
Dalam kitab Sarasamucaya diungkapkan bahwa seorang anak mempunyai tiga hutang terhadap orang tuanya antara lain sebagai berikut :
1.   Sarira krea yaitu hutang badan.
2.   Anadata yaitu hutang budi
3.   Pranadata yaitu hutang jiwa
Tingkat Pitra Yadnya adalah :
1.      Sawa prateka, adalah usaha penyelenggaraan sawa (jenasah) agar dapat kembali pada panca maha butha. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengkebumikan atau dibakar dengan proses lebih lanjut.
2.      Sawa wedana adalah kelanjutan dari upacara pembakaran yaitu abunya dihanyutkan kelaut.
3.      Swasta adalah upacara pembakaran mayat yang mayatnya tidak ditemukan.
4.      Atma wedana upacara pengembalian atma dari alam pitara di alam Hyang Widhi.

Contoh pelaksanaan Rsi Yadnya, sehari-hari atau nitya Karma kepada oranng tua adalah dengan :
a.      Mematuhi nasihat serta perintahnya.
b.      Meringankan beban orang tua dan secara sadar membantu pekerjaannya
c.       Hormat dan bhakti kepada orang tua.
d.      Berperilaku  hati orang tua.

Contoh pelaksaan Pitra yadnya pada hari-hari tertentu atau Naimitika Karma adalah pada saat orang tua meninggal. Kewajiban seorang anak untuk membayar hutang kepada orang tuanya pada saat meninggal dengan :
a.      Upacara penguburan jenasahnya sesuai dengan desa, kala, dan patra.
b.      Upacara ngaben yaitu membakar jenasahnya untuk mempercepat kembalinya unsur Panca Maha Butha kesumber asalnya.
c.       Mengormati jasa para pahlawan bangsa dengan cara upacara peringatan hari Pahlawan. Atas jasa perjuangan dalam membela Bangsa dan Negara dari penjajahan sehingga negara yang kita cintai ini merdeka.

3.      Rsi Yadnya adalah korban suci atau persembahan yang tulus ikhlas kepada para Rsi, pendeta, guru, dan orang-orang bijaksana yang patut dipercaya karena kesucian jiwanya.

Contoh :
Pelaksanaan Rsi Yadnya yang dilakukan sehari-hari atau Nitya Karma :
a.      Menaati dan mengamalkan ajarannya.
b.      Menghaturkan punia atau sumbangan dengan ikhlas kepada sulinggih.
c.       Melakukan pelayanan kesehatan yang didasari rasa kasih sayang kepada sulinggih.
d.      Membangun dan memelihara tempat tingggal atau asrama bagi sulinggih serta tempat suci atau pura-pura peninggalannya.
Sedangkan pelaksanaan Rsi Yadnya yang dilakukan pada hari-hari tertentu atau Naimitika Yadnya adalah :
a.      Mewinten yaitu upacara penyucian bagi calon kerohanian atau pelayanan keagamaan.
b.      Ekajati yaitu upacara penyucian bagi calon pemangku atau pinandita agar mempunyai kewenanangan untuk ngantebang banten atau memimpin upacara tingkat tertentu.
c.       Madiksa atau Madwijati yaitu upacara penobatan seorang calon sulinggih menjadi sulinggih (pendeta/pedanda) yang mempunyai kewenangan muput atau memimpin upacara yang tingkatannya lebih besar.
Dwijati artinya lahir dua kali bagi calon sulinggih. Kelahiran pertama adalah lahir dari ibu kandungnya (kelahiran manusiawi) dan yang kedua adalah lahir dari ilmu pengetahuan kerohanian dari seorang “Guru Naba”.
Bagi orang kebanyakan yaitu umat sedharma, pelaksanaan Rsi Yadnya adalah dengan menyebarluaskan  ajaran dharma, memberi contoh pelaksanaan agama secara nyata dalam kehidpan sehari-hari, melakukan pelayanan dengan cinta kasih kepada sesama manusia dari makhluk hidup lainnya. Hal ini sangat penting dihayati sehingga terjalin hubungan yang harmonis antar umat beragama, pemerintah dan lingkungan ditempat kita berada.

4.      Manusa Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada manusia untuk keselamatan dan kesejahteraan manusia itu sendiri, baik keturunan, dirinya sendiri, dan orang lain. Dengan Manusa Yadnya orang memohon kesucian lahir batin kehadapan Tuhan dan manifestasinya. Dapat meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik dan benar dari sejak berada didalam kandungan hingga kehidupan seterusnya.

Contoh pelaksanaan Manusa Yadnya yang dilakukan sehari-hari atau Nitya Karma antara lain :
a.      Melaksanakan tugas dan kewajiban sehari-hari dengan tulus ikhlas, semangat dan penuh kesadaran.
b.      Mensyukuri keberadaan diri sendiri, keluarga dan orang lain.
c.       Rela berkorban dan suka mengalah untuk kebaikan bersama.
d.      Hidup hemat dan sederhana tidak banyak menuntut.
e.      Suka melayani orang dengan cinta kasih.
f.        Sopan dalam tingkah laku dan santun dalam bertutur kata.
g.      Suka menolong orang yang memerlukan pertolongan.
h.      Berdana punia untuk kemanusiaan dan kegiatan sosial lainnya.

Contoh pelaksanaan manusa yadnya yang dilakukan sewaktu-waktu atau Naimitika Karma  antara lain :
a.       Magedong-gedongan yaitu upacara bayi yang masih dalam kandungan.
b.      Dapetan yaitu upacara bayi baru lahir.
c.       Tutug kambuhan yaitu upacara anak pada umur 42 hari.
d.      Nelubulanin yaitu upacara anak berumur 3 bulan atau 105 hari.
e.      Ngotonin yaitu upacara anak yang telah berumur 6 bulan atau 210 hari.
f.        Ngeraja singa yaitu upacara orang laki menginjak dewasa dan ngeraja sewala yaitu upacara orang perempuan yang telah menginjak dewasa.
g.      Potong gigi (metatah/mepandes) yaitu upacara pada saat orang sudah benar-benar dewasa.
h.      Pawiwahan yaitu upacara perkawinan.

5.      Butha Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas ditunjukkan kepada makhluk bawahan, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Adapun maksud upacara Bhuta Yadnya dilaksanakan adalah untuk menjaga dan memelihara keseimbangan, ketentraman dan kesejahteraan alam semesta ini.
Pelaksanaan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1.      Ditunjukkan kepada makhluk bawahan, seperti binatang, hewan peliharaan dan tumbuh-tumbuhan.
2.      Ditunjukkan kepda makhluk bawahan yang tidak kelihatan, seperti roh-roh halus yang biasa disebut Butha Kala dan kekuatan-keuatan alam lainnya.

Contoh pelaksanaan Butha Yadnya pada setiap hari atau Nitya Karma, antara lain :
a.      Mesaiban atau banten jotan yang dilakukan setiap habis memasak, istilah lainnya adalah Yadnya Sesa.
b.      Mesegeh setiap rerainan ditunjukkan kepada Butha Kala.
c.       Memelihara binatang atau hewan peliharaan dengan baik.
d.      Memanfaatkan waktu dan mmengendalikan diri atau emosi secara arif bijaksana.

Contoh pelaksanaan Butha Yadnya pada hari-hari tertentu atau Naimitika Yadnya adalah :
a.      Melaksanakan upacara pecaruan sesuai dengan tingkatan, maksud dan tujuannya. Tingkatan caru ada beberapa antara lain :
1.      Eka Sata yaitu caru dengan menggunakan seekor ayam brumbun.
2.      Panca Sata yaitu caru dengan menggunakan lima ekor ayam yang diesuaikan dengan arah mata angin atau pengider-ider yaitu :
-          Ayam putih tulus letaknya di arah timur.
-          Ayam biing (merah) letaknya di arah selatan.
-          Ayam putih siungan letaknya di arah barat.
-          Ayam selem (hitam) letaknya di arah utara.
-          Ayam brumbun letaknya di arah tengah.
3.      Panca Kelud yaitu caru yang menggunakan lima ekor ayam ditambah seekor itik belang kalung dan seekor asu blang bungkem.
4.      Resi Gana yaitu caru dengan menggunakan lima ekor ayam dan seekor itik putih jambul.
5.      Tawur agung yaitu sehari menjelang Hari Raya Nyepi atai Tileming kesanga.
6.      Panca Wali Krama yaitu dilakukan sepuluh tahun sekali, pelaksanaannya di Pura Besakih.
7.      Eka Dasa Ludra yaitu dilakukan setiap 100 tahun sekali, pelaksanaannya di Pura Besakih.
b.      Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kehidupan makhluk lainnya seperti binatang atau hewan peliharaan dan tumbuh-tumbuhan, misalnya :
-          Pada hari Tumpek Kandang, untuk binatang peliharaan, seprti babi, sapi dan kerbau.
-          Pada hari Sabtu Kliwon Wuku Wariga yang disebut Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag yaitu upacara untuk tumbuh-tumbuhan, seperti pohon kelapa, jambu, mangga, dan lain sebagainya.

c.                  Bentuk-bentuk yadnya

Bila diamati secara cermat dari sekian banyak bentuk-bentuk yadnya tersebut, maka dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
1.       Berbentuk upakara atau banten sebagai perwujudan tuhan dengan segala prabawanya. Di dalam upakara tersebut sudah terkandung juga Puja Stawa dan doa permohonan. Bentuk upakara atau banten tersebut dibedakan pula menjadi beberapa macam yaitu :
a.       Berbentuk niyasa atau simbol perwujudan Tuhan dengan segala manifestasinya.
b.      Berbentuk persembahan, sebagai wujud terimakasih kepada tuhan atas seegala anugerahnya.
c.       Berbentuk hiasan, sebagai wujud seni budaya atau keindahan dalam menambah keseimbangan kreatifitas agar suasana indah menyenangkan.
2.       Berbentuk karma atau persembahan perilaku sebagai wujud sradha dan bhakti terhadap Tuhan dan segala wujudnya.
Bentuk yadnya berupa karma atau persembahan perilaku yang banyak sekali macamnya, misalnya mengamalkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari seperti :
a.       Nilai kebenaran yang meliputi :
-            Bijaksana dalam artian dapat menimbang dan memilih mana yang baik dan buruk, serta mana yang salah dan benar.
-            Jujur dan dapat dipercaya.
-            Mengenal diri sendiri dan mawas sendiri.
-            Haus pengetahuan.
b.      Nilai kebajikan yang meliputi :
-            Bertingkah laku yang baik dan benar.
-            Melaksnakan tugas dan kewajiban sesuai dengan swadharma kita masing-masing secara tulus ikhlas.
-            Suka menolong dan membantu orang yang memerlukan pertolongan.
-            Rajin dan tekun dalam menunaikan tugas, pelayanan, serta bertanggung jawab.
-            Memberi dharma wacana dan nasehat.
-            Hemat dan sederhana.
c.       Nilai kasih sayang yang meliputi :
-            Penuh perhatian dan belas kasihan.
-            Mudah bersahabat dan suka memaafkan.
-            Santun dan lemah lembut dalam bertutur kata.
-            Menerima kenyataan apa adanya.
-            Memberi dan melupakan.
-            Rendah hati.
d.      Nilai kedamaian yang meliputi :
-            Membatasi keinginan, mengendalikan emosi.
-            Mensyukuri apapun yang terjadi.
-            Berpenampilan tenang dan bersahaja.
-            Tabah, sabar dan tawakal.
-            Percaya diri dan oftimis.
e.    Nilai tanpa kekerasan yang meliputi :
-            Tidak menyakiti sesama makhluk hidup.
-            Menghormati perbedaan sebagai satu kesatuan dalam menjalin persatuan.
-            Menjaga situasi aman dan tentram.
-            Tidak memaksakan kehendak.
-             Adalah rela mengalah demi kebenaran.


d.                  Tujuan Yadnya

Setelah memahami pengertian, jenis dan bentuk yadnya kiranya belum lengkap bila tidak mengetahui tujuan yadnya secara jelas. Secara ringkas tujuan yadnya adalah sebagai berikut :
1.      Untuk membayar hutang kepada Tuhan (Dewa), pitara  dan para rsi, sehingga mencapai kebebasan dan keselamatan.
2.      Sebagai ungkapan rasa terimakasih atas karunia yang dilimpahkan Tuhan dengan segala manifestasinya untuk kelangsungan hidup ini.
3.      Untuk membebaskan diri dari ikatan dosa.  Selama hidup di dunia ini  manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja.
4.      Untuk menghubungkan diri dengan Tuhan dan manifestasinya, sehingga mencapai kebebasan yaitu menunggal dengan tuhan sebagai tujuan akhir hidup manusia,
5.      Untuk menyucikan lahir dan bhatin manusia itu sendiri dari segala kekotoran, pikiran, perkataan, dan perbuatan. Demikian pula untuk menyucikan atau menetralisir alam semesta dengan segala isinya, sehingga tercapai tujuan hidup yaitu ‘Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma” atau tercapainya kesejahteraan di dunia ini dan kebahagiaan di akhirat.
6.      Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan manusiadan manusia dengan alam lingkungan sekitarnya
Oleh karena itu pentingnya tujuan yadnya tersebut, maka setiap umat hindu berkewajiban melaksanakan yadnya dengan tulus ikhlas dan berkesinambungan, hal penting lainnya yang harus dipahami oleh umat hindu di manapun berada dalam beryadnya adalah berpedoman pada sastra agama Hindu. Pelaksanaan yadnya agar disesuaikan dengan desa (tempat), kala (waktu) dan patra (keadaan dan kemampuan)


Kesimpulan

Yadnya adalah pemujaan, persembahan atau korban suci yang dilandasi oleh hati yang tulus ikhlas. Yadnya dalam pengertian lebih luas tidak saja saja sebatas pad segala bentuk pemujaan upacara, semata berupa persembahan sesajen, namun jauh lebih dari pada itu yaitu segala bentuk pemujaan, persembahan atau korban suci, baik berupa material maupun spiritual yang timbul dari jiwa suci dan semangat berkorban demi untuk tujuan mulia dan luhur.
Dalam pengertian upacara persembahan, yadnya dapat dibagi menjadi lima macam yaitu Dewa Yadnya, Pitra yadnya, Rsi Yadnya, dan Butha Yadnya. Panca yadnya ini timbul akibat dari adanya hutang (Rna) manusia sejak lahir. Hutang tersebut terdiri dari tiga macam  yaitu Dewa Rna, Pitra Rna, dan Rsi Rna. Dinilai dari jenis dan betuk yadnya tentu mempunyai tujuan. Tujuan yadnya itu adalah untuk membayar hutang, ungkapan rasa terima kasih, membebaskan diri dari dosa, menghubungkan diri dengan tuhan, menyucikan lahir batin dan alam semesta serta menjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam lingkungannya.



DAFTAR PUSTAKA


1.  Ananda Kusuma, Sri Reshi. 1979.
2.  Arbawa Tanjung Mas, NT, SE, MBA, MM, Ph. D. 1998.
3.  Bajrayasa, BA, I Gede. 1981.
4.  Mantra Prof. Dr. IB. 1984/1989.
5.  Mas Putra, IG. Ag. 1982.
6.  Netra, Drs. A.A. Gede Oka. 1984.
7.  Pudja. G. MA, SH. 1981.
8.  Pudja. G. MA, SH. 1981.
9.  Pudja. G. MA, SH
10.  Punyatmadja. Drs. IB. Oka
11.  Sudharma, Drs. IB. Agung
:  Pergolakan Hindu Dharma I & II
:  Canang Sari Agama Hindu (Bagian I)

:  Acara (Sadacara)
:  Bhagawadgita, Pemda Tk I Bali
:  Upakara – yadnya
:  Tuntunan Dasar Agama Hindu
:  Bhagawadgita
:  Sradha
:  Pelajaran Agama Hindu
:  Panca Sradha PHD Pusat Denpasar
:  Indik Kasulinggihan (Makalah)


0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com